Sosok  

Anita, Mojang Bandung Penjual Baju Bekas, Modal Minim Untungnya Maksimal!

BINCANGPOS.com – Sobat bincangpos, Mojang Bandung ini namanya Anita. Ia sukses berbisnis baju bekas dari modal ratusan yang kini untungnya hingga jutaan. Anita kini benar-benar menjadi bos di bisnisnya sendiri sebagai penjual baju thrift dengan nama Lapak Omah 90’s.

Ketertarikannya berbisnis baju bekas ini berawal dari hobinya untuk thtifting (mencari baju second) dan digunakan secara pribadi. Selain karena dijual dengan harga miring, kualitas dan model pun tak kalah saing dengan merek ternama.

“Kalau ketertarikan sih, mungkin emang sebelum jualan udah tertarik aja sama barang-barang thrift ya, soalnya kan udah harganya murah model nggak akan pasaran. Nah di situ sih titik yang bikin tertariknya,” ujar Emon, sapaan akrab Anita seperti dikutip dari laman detikcom.

Dia mengatakan, sudah menjajaki bisnis baju bekas sejak duduk di bangku kuliah tepatnya tahun 2017 di tempat tinggalnya, Kota Bandung. Namun saat itu, sempat berhenti beberapa bulan dan mulai kembali pada akhir 2018.

Baca Juga:  Teknologi Semakin Canggih, Saat Pandemi Anak Sekolah Juga Bisa Investasi!

“Awalnya nge-thrift buat kebutuhan pribadi aja kan, nah lama-lama ternyata thrift mulai merambat nih banyak yang jualan di online, soalnya dulu kan thrift masih kaya dipandang sebelah mata ya karena barang bekasnya itu. Pas udah masuk ke online ternyata thrift naik kualitasnya, disitu mulai tertarik, ditambah harga jualnya ya lumayan tinggi dibanding harga modal (dulu),” katanya mengenang pahit getirnya kesuksesan.

Jatuh bangun dunia usaha pun ia lalui dari mulai semakin banyaknya saingan pedagang thrift shop hingga kendala pemasaran. Selama ini, ia mengandalkan pemasaran melalui akun Instagram.

Baca Juga:  Muhadjir Effendy: Suka Duka Merintis UMM Jadi Universitas Islam Terbaik di Dunia

“Kalau sekarang harga modal udah mahal sih beda, karena makin banyak orang yang terjun di thrift shop jadi aja penjual pasar seenaknya naikin harga di pasar. Waktu awal pandemi, sulit banget dapat barang soalnya barang dari luar pada ketahan nggak bisa masuk ke sini, itu bikin dapat barang susah di pasar, terus harga mahal. Abis itu Instagram sekarang insight-nya naik turun, nah itu juga sih yang bikin sulit, soalnya penjualan bisa naik turun kalau insight lagi kacau,” tuturnya.

Meski begitu, Emon dapat melalui tantangan tersebut dengan konsisten terhadap usaha thrift shop-nya. Bahkan pengirimannya pun sudah merambah ke luar daerah seperti Papua, Kalimantan, Sumatera hingga ke Aceh.

“Alhamdulillah awal pandemi rame banget (pembeli), aku bisa ngerasain sih malah ya lapakomah tuh pertama naik gara-gara Corona, bener-bener ada berkahnya banget sebenernya dari followers (Instagram) 40 ribu gitu, tiba-tiba rame sampe 100 ribu sekarang, cepet banget pokoknya,” imbuhnya.

Baca Juga:  Biografi Singkat Soeharto, Jenderal yang Selalu Tersenyum

Dia menuturkan, modal awal usaha thrift shop yang ia lakoni hanya berkisar Rp 500 ribu. Kini, di usianya yang menginjak 24 tahun, ia sudah mampu meraup omzet sekitar Rp 40 juta dalam sebulan dan mempekerjakan satu orang. Dia berharap, ke depan dapat mengembangkan usahanya hingga mempunyai merek sendiri.

“Pengin punya brand sendiri, soalnya kaya nggak yakin thrift shop bakal bertahan lama, makanya kemarin-kemarin sempat mikir harus dari sekarang punya usaha lain, biar nggak fokus satu aja, kepikirannya masih di fashion sih, makanya pengin punya brand clothing sendiri,” tandasnya.