Kolom  

Filosofi Koran Minggu

Oleh: Budhiana Kartawijaya, Mantan Pemred HU Pikiran Rakyat

BINCANGPOS.COM – Orang Inggris menyebutnya Sunday. Orang Prancis menyebutnya Lundi. Bangsa Jerman Sonntag. Artinya Hari Matahari, atau secara konteks sejarah agama, artinya Hari Untuk Tuhan, karena dahulu mereka menganggap matahari sebagai Tuhan.

Pada hari itu, mereka berhenti bekerja untuk pergi ke kuil dan menyembah Tuhan. Orang Islam menyebutnya Yaum al-Ahad, Yahudi menyebutnya Yom Rishon. Keduanya berarti “Hari Pertama”.

Di Indonesia ada yang menyebut hari Ahad, ada juga yang menyebutnya hari minggu. “Minggu” berasal dari bahasa Portugis “do-minggo”. Dominggo adalah “Hari untuk Tuhan.”. Hari Ahad atau Minggu memang adalah hari yang paling ditunggu.

Pada hari itu orang bebas dari pekerjaan. Ada yang pergi pesiar, belanja, olahraga, dan ada juga yang pergi beribadah ke gereja. Belakangan, libur Minggu dirasa kurang panjang. Dunia pun sepakat menjadikan Sabtu sebagai hari libur yang melengkapi Minggu.

Baca Juga:  Kasih Tak Sampai Kierkegaard

Intinya, manusia modern ingin rehat, reureuh (Sunda,red), atau jeda untuk membebaskan kita dari tekanan rutinitas Senin hingga Jumat.

Senin biasanya dihadapi dengan rasa malas. Bahkan Bob Geldof dari grup band Inggris Boomtown Rat mengabadikannya dalam lagu “I Don’t Like Monday.”

Minggu yang santai juga merambah ke dunia media. Dari Senin hingga Sabtu, pembaca koran atau pemirsa televisi dan radio disuguhi berita-berita rutin. Berita politik, hukum, ekonomi dan lain-lain disajikan dalam bentuk yang agak berat, langsung, dan menguras pikiran pembaca.

Pada hari Minggu, media mengeluarkan edisi Minggu. The Observer, British Gazette dan Sunday Monitor adalah koran-koran Minggu tertua di dunia. Mereka lahir pada paruh kedua tahun 1780-an. Isinya masih campur antara berita hard news maupun feature.

Memasuki abad 20, koran Minggu memang dibuat lebih santai. Identitas koran Minggu semakin terbedakan ketika jurnalis asal Liverpool, Arthur Wynne membuat teka-teki silang (TTS) di Koran New York World, di Amerika, terbitan 21 Desember 1913.

Baca Juga:  Spirit Moderat dalam Beragama

Ini adalah TTS pertama di dunia yang muncul di media. Sepuluh tahun kemudian permainan kata-kata ini sudah menguasai semua media Amerika, dan kemudian “kembali” ke Inggris, negara asal Wynne, untuk mengisi ruang koran-koran Minggu.

Selain TTS, koran Minggu pun berisi komik, kartun, cerita pendek, konsultasi dan lain-lain. Hari Minggu peun menjadi lebih ceria. Pembaca boleh libur dari pekerjaannya pada Hari Minggu, akan tetapi koran tidak boleh berhenti mengisi ruang publik.

Tetap Informatif dan Inspiratif

Koran Minggu adalah jalan tengahnya dengan menurunkan “tensi” berita, menjadi lebih lunak namun tetap informatif dan inspiratif. Selain itu, koran Minggu tidak boleh statis, akan tetapi mengikuti perkembangan zaman dan tren.

Baca Juga:  Roni Tabroni: Waspadai Konten Media yang Tidak Ramah Anak dan Perempuan

Karena itu, Koran Pikiran Rakyat Minggu – atau sebut saja PR Minggu harus mengikuti perkembangan masyarakat. Perubahan-perubahan harus senantiasa dilakukan pada waktunya.

Kalaulah hari ini PR Minggu muncul dengan wajah dan isi yang baru, itu adalah semangat para pengelola yang rata-rata berusia muda untuk melayani pembaca.

Penyempurnaan PR Minggu akan terus dilakukan sebagai bagian dari peningkatan kualitas PR secara keseluruhan. Mudah-mudahan isi PR Minggu memberikan semangat dan inspirasi kepada para pembaca agar memasuki Senin dengan optimis.

Dengan semangat optimis, hari-hari biasa pun akan jadi luar biasa, karena pada hakekatnya Tuhan tidak pernah membeda-bedakan hari. Hari-hari akan terasa berbeda bagi mereka yang berbuat baik pada hari itu.

Selamat berhari Minggu.

(Artikel ini pernah dimuat di Koran Pikiran Rakyat, Minggu 29 April 2012).