Kamu Bertanya tentang Nafkah, Inilah Jawaban Cerdas UAS

BINCANGPOS.COM – Ada banyak pertanyaan yang muncul tentang nafkah lahir dan bathin bagi para suami yang jauh dari keluarga untuk bekerja dan atas dasar musyawarah dengan isteri.

Berapakah nafkah yang harus diberikan untuk hidup keluarga saya, dan bagaimana dengan nafkah bathin?

UAS menjawab sebagai berikut:

Dalam janji pernikahan ada istilah “Wa’asyiruu Hunna Bil ma’ruf…” atau Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik …… (QS. An-Nisa: 19). Bil ma’ruf disini diambil dari kata ‘urf yang termasuk dalam sepuluh dasar pengambilan hukum dalam Islam.

Terma ‘urf adalah kebiasaan atau disesuaikan dengan standar hidup suatu tempat.

Perihal nafkah lahir, ada kewajiban seorang suami terhadap isteri yaitu, memberikan makan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan dan perhatian sesuai dengan kemampuan.

Baca Juga:  Ketawanya Seorang Muslim ialah Energi Positif

Contohnya; dalam suatu tempat standar hidupnya Rp. 3.000.000,- dalam sebulan suami berkewajiban untuk menakahi keluarganya sebesar Rp. 3.000.000,- atau sesuai dengan kamampuan suami atas dasar ridha istri.

Dalam kebiasaan ini, standar hidup tidak bisa disamakan dengan tempat lain. Contohnya: biaya hidup di Jakarta tidak dapat disamakan dengan biaya hidup di Papua atau di Sumatera.

Nafkah bathin sudah tertulis dalam sighat ta’liq pada buku nikah. Dalam sighat ta’liq tertulis:

1. Meninggalkan istri saya selama 2 (dua) tahun berturut-turut;

2. Tidak memberikan nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya;

3. Menyakiti badan atau jasmani istri saya; atau

Baca Juga:  Kamu Bertanya Hukum Berobat Pada dokter Beda Jenis Kelamin, Inilah Jawaban Tegas dan Lugas UAS

4. Membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya selama 6 bulan atau lebih.

Dari empat sighat ta’liq diatas, jika dilanggar salah satunya oleh suami dan istri tidak menerimanya lalu istri melapor ke pengadilan, maka jatuhlah thalaq satu pada suami.

Contoh, suami meninggalkan istrinya lebih dari dua tahun dan istrinya tidak ridha atas ditinggalkannya, maka istri berhak untuk melaporkan suaminya ke pengadilan agama setempat. Tetapi, jika istri ridha dan menerima kepergian suami selama apapun sesuai dengan kesepakatan, maka itu boleh dan tidak akan jatuh talak.

Nafkah bathin tidak dapat dijadikan sebagai alasan suatu rumah tangga dapat bahagia dan langgeng. Jika memang hanya nafkah bathin yang menajdi suatu hubungan rumah tangga bahagia dan langgeng, maka seorang PSK (maaf) lah yang hanya dapat melanggengkan rumah tangga, karena setiap hari memberikan kepuasan.

Baca Juga:  Inilah Bedanya Lafaz Niat Sholat Ashar Sendirian dengan Berjamaah

Maka dalam rumah tangga akan terasa sejuk dan tenang jika seorang istri menyambut suaminya pulang dengan senyum. Suami selalu basah dengan air wudhu, membaca Al Quran, menanyakan keluarga dengan lembut.

Seperti doa yang sering kita ucapkan: “Rabbana Hab lana min Azwajiina wa dzuririyattina qurrata a’yun, waja’alna lil muttaqina imama” (Wahai Tuhan kami, anugrahilah kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).