Kolom  

Kasih Tak Sampai Kierkegaard

Oleh: Radea Juli A Hambali, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

BINCANGPOS.COM – Di usia 20 tahunan karir intelektualnya sudah meroket. Ia mapan dan berkecukupan. Tapi rupanya hidup bukan melulu garis lempang, nihil tanjakan dan kejutan. Di balik kesuksesan dan kemapanan, dikisahkan pula cerita duka, derita bahkan pernah putus asa akibat “kasih tak sampai”.

Pemikirannya boleh saja tajam dalam menganalisa “cara berada” manusia tapi pada saat yang sama justeru tumpul menaklukan bahkan mempersunting wanita pujaan yang dikasihinya. Duduk di pelaminan hanya tinggal impian. Berbulan madu di awan biru hanyalah lamunan yang menyesakkan.

Baca Juga:  Universalisme Bahasa Perdamaian

Penderitaan yang hebat, luka dan keputusasannya yang berat telah “memaksa” dirinya untuk “beruzlah” menjadi sosok penyendiri di sebuah apartemen. Menjauh dari kehidupan ramai bertekun dalan kesunyian.

Di tengah kesendirian akibat perasaan terluka dan kecewa, dia malah disergap grapomania yang “menitahkan” pikirannya untuk tak boleh kalah menyerah. Penderitaan, sakit hati juga keputusasaan yang dialaminya seumpama “blessing indisguise” bagi tangannya untuk terus menulis dan menulis.

Dalam hitungan tahun ia sukses melahirkan banyak manuskrip yang merentang dari tema filsafat, autobiografi, cerita fiksi bahkan khotbah agama. Seluruh manuskrip yang dibuatnya ini kemudian membentuk matrik dan mazhab pemikiran yang khas dalam dunia filsafat tentang keberadaan manusia: Eksistensialisme.

Baca Juga:  Spirit Moderat dalam Beragama

“Tdak ada satu manusia pun yang tidak pernah putus asa,” begitu kilahnya. “Kalau ada orang yang mengatakan tidak pernah, maka itu merupakan sebuah tindakan membohongi diri sendiri yang akan membawa seseorang kepada keputusasaannya yang lebih dalam”.

Kierkegaard adalah “uswah” buat pria yang pernah terluka hatinya. Ia adalah contoh sempurna bagi laki-laki yang pernah tersakiti nuraninya. Bahwa penderitaan, kecewa, sakit hati juga keputusasaan akibat asmara tak seharusnya menumpulkan bahkan mematikan fungsi nalar.

“Kasih tak sampai” tak harus menjadi alibi untuk kemudian mengatakan “yang patah memang tumbuh, lalu sembuh tapi tak bisa kembali utuh”.[] 😊