Kolom  

Masjid yang Memberi Makan!

Oleh: Budhiana Kartawijaya, Ketua Pembina Odesa Indonesia

BINCANGPOS.COM – Setiap Ramadan kita menyaksikan hampir semua masjid menyediakan makanan takjil, dan tak sedikit yang juga memberikan makan berat setelah takjil.

Siapa yang menyediakan itu?

Di kompleks perumahan maupun di RT/RW, setiap keluarga kena giliran menyumbang makanan itu. Maka sibuklah para ibu rumah tangga manakala gilirannya tiba. Tapi tidak ada yang keberatan. Ibu-ibu malah gembira jika makanannya ludes, dan khawatir bila makanan sumbangannya tidak disantap.

Bukankah begitu ya teman-teman? Ikhlas dan bahagia bisa menyediakan makanan? Di masjid-masjid besar, donatur-donatur kakap, termasuk perusahaan-perusahaan juga ikut menyumbangkan makanan.

Di kota-kota besar nan padat, seperti Bandung Raya, keberadaan makanan di masjid ini sangat membantu mereka yang terpaksa buka tidak di rumah. Mereka adalah pelalu lintas, sopir angkot, pemulung, pengemudi ojol, dan lain-lain. Di masjid kampus, para mahasiswa yang kuliah sampai jelang magrib, menunggu adzan buka, setelah itu mereka makan besar.

Saya pernah ngobrol dengan sopir angkot Abdul Muis-Dago yang mampir tajil di Masjid Salman. Kebetulan sopir itu saya tegur, karena saya lihat dia bolak-balik ambil nasi kotak lebih dari satu. Tapi saya urung marah ketika dia bilang :”Kanggo putra pak! Kaleresan gaduh tilu. Lumayan tiasa ngabantos, da ayeuna mah penghasilan angkot teh teu sapertos kapungkur. Abdi mah langki mendak daging.”

Baca Juga:  Fanatisme dan Tunas Kebencian

Dari ingin menegur saya jadi balik merenung. Bagi pekerja kelas bawah perkotaan dengan penghasilan harian tak tetap, tampaknya komponen biaya hidup terbesar adalah biaya makan.

Bekerja di jalanan, pulang bawa uang buat makan. Uang habis, kembali lagi ke jalan buat cari uang. Duit dapat, habis buat makan. Begitu terus. Kadang uang sedikit tak cukup buat menyediakan makanan bergizi!

Kalau begitu apa beda pekerja rendahan dengan kuda? Kuda bekerja untuk makan, dan makan untuk bekerja. Tidak ada cukup uang untuk meningkatkan pendidikan anak, tak ada tabungan buat hidup ke depan. Tak ada sisihan buat hiburan.

Saya juga beberapa kali ngobrol dengan teman-teman ojol, sampai pemulung. Betapa makanan yang disediakan masjid-masjid itu sangat menolong mereka dan anak-anaknya. Uang mereka jadi selamat, dan bisa digunakan beli yang lain, seperti susu, atau pakaian seadanya.

Baca Juga:  Universalisme Bahasa Perdamaian

Lantas, mengapa kebiasaan baik ini berhenti ketika Ramadan lewat?

Ramadan sebagai arena latihan kasih sayang, mestinya bisa membuat kita lebih care kepada mereka yang susah. Dan ternyata kita bisa menjadikan masjid sebagai pusat makanan, food hub, food shelter, food bank…atau apapun namanya.

Masjid adalah titik pusat gotong royong, masjid adalah jaring pengaman sosial. Masjid adalah bantal sosial (social cushion) yang menjadi alas pelindung jika seseorang terjatuh.

Orang-orang lapar berpotensi kriminal di perkotaan. Bila perut kenyang, mudah-mudahan angka kriminal kota berkurang. Kebiasaan ini harus diteruskan.

Kita semua percaya manusia itu terlahir dengan fitrah baik. Dia ingin berbagi. Namun tidak ada yang memfasilitasi. Kita harus membalik jargon “Memakmurkan Masjid” menjadi “Masjid Memakmurkan Kota”.

Pengurus masjid jangan lagi bangga mengumumkan saldo kas yang besar. Itu tandanya uang umat ngendon, tak berputar. Bila uang berputar, mesin ekonomi akar rumput akan berputar. Jangan khawatir kas kosong, orang-orang baik akan mengisinya kembali.

Baca Juga:  Spirit Moderat dalam Beragama

Jangan anggap remeh kencleng masjid. Saya baca buku yang ditulis Iip Dzulkipli Yahya, Bank BRI (yang menjadi bank terbesar di Indonesia, masuk Forbes 2000 pada 2022 ini yaitu sebagai perusahaan yang masuk dalam 2000 perusahaan publik terbesar dunia), itu awalnya dari KENCLENG masjid! Cuma kemudian diambilalih Belanda. BRI banyak membantu pengusaha kecil.

Sesuai dengan semangat Sustainability Developmet Goals (SDGs), masjid bisa menjadi kekuatan ketahanan masyarakat kota. Bila ada krisis karena bencana atau wabah, orang-orang terdampak bisa berharap ke masjid.

Ada 2.143 masjid di Kota Bandung (BPS, 2019). Bila berfungsi semuanya, kemakmuran Kota akan meningkat. Banyak orang baik, banyak restoran, banyak kafe yang bisa menyumbang makanan. Maka masjid itu menjadi pilar, dan agama terasa adanya.

Saya selalu terganggu oleh Cerpen AA Navis (Robohnya Surau Kami) yang saya baca lebih dari dua puluh tahun lalu: Masjid kokoh yang tidak hirau pada realitas sekelilingnya, pada hakekatnya masjid itu sudah roboh!

Nauzubillah….