Kolom  

Spirit Moderat dalam Beragama

Oleh: Radea Juli A Hambali, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

BINCANGPOS.COM – Moderat itu sikap. Ia seumpama keputusan untuk berdiri di tengah diantara dua kutub yang sama-sama ekstrim. Sebagai keputusan, moderat berarti meletakkan kepentingan yang lebih besar dan maslahat di atas kepentingan ego pribadi atau seruan chauvinistik yang sering berujung pada fanatisme ekstrim.

Spirit untuk bersikap moderat dalam beragama adalah seruan firman Tuhan sebagaimana tertuang dalam teks Kitab Suci. Alasan yang paling masuk akal dan bisa diterima sebagai “axis mundi” untuk berteguh memosikan diri dalam perilaku yang moderat adalah seruan dan tindakan-tindakan kongkrit yang pernah dicontohkan oleh para utusan Tuhan.

Tengoklah ayat ini, “serulah manusia ke jalan Tuhan dengan hikmah, keteladanan, dan berdiskusilah dengan cara yang paling baik” (an-Nahl:125). Atau perhatikan ujar-ujar hadist nabi bahwa “sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan”.

Ayat al-Qur’an juga tuturan hadits di atas bergerak dalam arus yang sama, yaitu tentang spirit untuk memainkan bandul kehidupan yang tak berpihak di tepi kanan ataupun kiri secara ekstrim. Diksi “hikmah”, misalnya, adalah seruan untuk mengajak manusia dengan cara-cara yang “bijaksana”.

Baca Juga:  Bila Kamu Mimpi Mampu Berbicara Bahasa Asing, Inilah Arti dan Maknanya

Dalam hikmah, tak ada ajakan yang memaksa dengan penampilan yang garang. Dalam hikmah tak ada seruan yang menghinakan dan menistakan. Dalam hikmah tak ada klaim absolut yang mendaku sebagai entitas yang cukup diri (self sufficiency), yang paling benar dan sempurna.

Bahkan dalam pemaknaan yang paling mendasar, menjadi moderat adalah kesadaran kemanusiaan yang paling jujur. Kesadaran yang meniscayakan tentang pluralitas sebagai fakta yang tak bisa ditampik.

Menjadi dan bersikap moderat adalah pengakuan yang paling primordial bahwa manusia “dikepung” oleh faktisitas, yang dalam bahasa kaum eksistensialisme disebut dengan “das Umgreifende”.

Das umgreifende adalah situasi batas dan kenyataan yang melingkupi. Kenyataan yang dihadapi manusia sebagai makhluk sosial. Heteregonitas realitas itulah das Umgreifende. Keberbedaan dan ketaksamaan itu das Umgreifende.

Baca Juga:  Kamu Bertanya tentang Rukyah, Inilah Jawaban Cerdas dan Cara UAS Menangkal Jin

Ia adalah diktum Tuhan yang paling niscaya. Karena itu, menjadi moderat dalam situasi heterogen bukan sekadar pilihan tetapi menjadi sikap yang sudah seharusnya.

Memainkan posisi moderat adalah membangun relasi yang sejajar dengan siapapun (primus interpares). Ia menjadi sikap yang mengimplementasikan teori relasi komunikasinya Martin Bubber tentang sulaman “I-Thou”.

Dalam I-Thou, Aku dan Engkau adalah dua entitas yang sama sekaligus berbeda. Tapi dalam ketaksamaan dan keberbedaan itu, aku tidak memosisikan engkau sebagai “the other” (liyan) yang dibendakan. Engkau hadir di hadapanku sebagaimana Aku hadir di hadapanmu.

Prinsip “I-Thou” adalah hubungan tulus dan terbuka yang memandang pembentukan diri selalu bergerak dalam proses “menjadi”. “I require a You to become, becoming I, I say You” (Aku membutuhkan Engkau untuk menjadi, sambil menjadi Aku, Aku berkata Engkau), begitu kata Martin Bubber.

In toto. Sikap moderat adalah usaha mengikis heterofobia, ketakutan terhadap yang lain. Menjadi moderat adalah sikap untuk mempersefsi yang lain tanpa ketakutan atau membuat stigma negatif terhadap yang-berbeda dan tak-sama. Menjadi moderat adalah kesadaran untuk untuk memandang “the other” sebagai pelita yang menerangi dan menuntun kehadiran dan membuka sejumlah kemungkinan baru tentang saya. Barangkali, inilah yang dimaksud Merlau-Ponty dengan pernyataannya bahwa “Aku meminjam diriku dari orang lain”.

Baca Juga:  Agar Terbebas dari Utang Piutang, Bacalah Surah Al-Kahfi, Kemudian Baca Doa Ini

Semangat moderasi adalah upaya membangun “kekitaan” yang menjamin setiap individu atau kelompok tertentu untuk mengada dan bebas mengaktualisasikan dirinya. Semangat moderasi adalah elan vital kehidupan untuk bergerak bersama mencintai dan mengupayakan kehidupan bersama yang saling menghargai, merawat dan mengembangkan.

Live and let life peacefully. Hidup adalah sebuah nilai yang sangat tinggi. Bukan sekadar hidup saya, melainkan hidup orang lain atau sesama, siapapun dia dan dari latar belakang keyakinan apapun ia berasal. Allahu a’lam