Whitehat Hacker, Si Hacker Baik Hati dan Suka Menolong

BINCANGPOS.com – Peretas (hacker) kerap diasosiasikan dengan aktivitas kejahatan, namun ternyata ada beberapa hacker yang mendedikasikan dirinya untuk membantu membenahi lubang keamanan siber di pemerintah dan perusahaan. Mereka biasa disebut white hat (topi putih) hacker.

Hacker sesungguhnya adalah sebutan bagi seorang yang ahli dalam memanfaatkan pengetahuannya untuk menganalisa, memodifikasi, dan membobol masuk ke jaringan atau perangkat demi keuntungan tertentu.

Sementara white hat hacker atau peretas bertopi putih adalah pakar keamanan komputer yang meretas sistem untuk mengevaluasi kelemahan guna menyarankan peningkatan sistem. Peretas bertopi putih biasanya bekerja dalam sebuah organisasi, perusahaan, atau sebagai pekerja lepas.

Dilansir dari Kaspersky, perusahaan biasanya mempekerjakan peretas topi putih untuk menguji sistem informasi mereka. Para peretas topi putih melakukan pemindaian mendalam pada sistem jaringan perusahaan.

Mereka menggunakan metode-metode yang kemungkinan akan digunakan peretas jahat (black hat hacker), bahkan mencoba mengelabui pegawai di perusahaan tersebut untuk mengklik tautan yang mengarah ke malware.

Peretas topi putih merupakan alasan beberapa organisasi besar mengalami waktu down dan isu pada website yang lebih sedikit.

Aksi peretas topi putih

Beberapa waktu lalu Ford Motor Co. dilaporkan mengalami potensi kebocoran data pegawai dan pelanggan. Namun hal ini bisa dicegah berkat bantuan dari dari para peneliti keamanan siber yang memberi peringatan kepada pabrikan pembuat mobil tersebut.

Baca Juga:  Bantu Kelumpuhan Total, Neuralink Tanam Microchip di Otak Manusia Mulai Tahun Depan

Para peneliti keamanan siber ini menginformasikan bahwa data sensitif yang ada di sistem internal Ford tidak aman dari serangan siber.

Dilansir dari Free Press, kerapuhan pada sistem keamanan siber Ford ditemukan oleh teknisi keamanan bernama Robert Willis dan koleganya yang dikenal sebagai break3r, dengan validasi lanjutan dari anggota grup ethical hacking Sakura Samurai-Aubrey Cottle, Jackson Henry, dan John Jackson.

Teguh Aprianto, Hacker topi putih

Peretas (hacker) tidak melulu merupakan aktivitas mencuri data lalu meminta tebusan dari korbannya, baik individu atau perusahaan (black hat/ topi hitam). Bagi Teguh Aprianto, peretas bisa menjadi pekerjaan yang bisa membantu orang lain atau dikenal sebagai white hat (topi putih).

Teguh adalah praktisi keamanan siber sekaligus salah satu orang di balik berdirinya Ethical Hacker Indonesia, sebuah organisasi yang menjadi wadah bagi seluruh ethical hacker di Indonesia untuk berperan aktif membantu masyarakat luas.

Teguh berkata Ethical Hacker Indonesia bertujuan untuk mengarahkan mereka yang memiliki kemampuan di bidang keamanan siber agar menggunakan kemampuan tersebut untuk hal-hal yang positif.

Sebelum menjadi seorang praktisi, Teguh mengaku merupakan mantan seorang peretas ‘bertopi hitam’, yang hanya menggunakan keterampilan dan pengetahuannya untuk melakukan aktivitas yang ilegal. Namun, berbagai proses kehidupan, seperti menikah dan akan memiliki anak akhirnya membawanya menjadi peretas bertopi putih.

Baca Juga:  Tim Mahasiswa Telkom University Ciptakan Gelang Pendeteksi Tsunami

Melansir NordVPN, peretas bertopi putih atau white hat hacker adalah pakar keamanan komputer yang meretas sistem untuk mengevaluasi kelemahan guna menyarankan peningkatan sistem. Peretas bertopi putih biasanya bekerja dalam sebuah organisasi, perusahaan, atau sebagai pekerja lepas.

“Mereka bisa diibaratkan sebagai tokoh ‘Robin Hood’ karena kerap menggunakan teknik ilegal untuk tujuan yang legal atau baik.”

Teguh menceritakan awal mula tertarik pada dunia peretasan berawal dari bermain game. Kala itu, dia berhasil membuat cheat untuk sebuah game. Bahkan, dia berhasil mengakali game itu agar bisa lebih cepat naik level.

Teguh menuturkan banyak waktu di warung internet atau warnet untuk bermain game. Berkat keahliannya menciptakan ‘cheat’, ia juga mengaku bisa mendapatkan sejumlah uang sendiri.

“Baru dari situ belajar hacking dan lain-lain,” ujar Teguh.

Teguh adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Teguh tumbuh besar di Batam sebelum akhirnya pindah dan tinggal di salah satu kota di Jawa Barat.

Teguh mengaku tidak memiliki latar belakang di dunia komputer. Orang tua dan kakaknya merupakan Pegawai Negeri Sipil. Bahkan, dia mengaku kuliah di jurusan broadcasting di salah satu universitas swasta sebelum akhirnya memilih untuk berhenti.

Baca Juga:  6 Aplikasi Messenger yang Sempat Hebohkan Jagad Indonesia

Sebelum jurusan broadcasting, dia juga sempat diminta untuk masuk ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri mengikuti jejak sang kakak.

“Setelah itu saya sadar tidak bisa kerja menjadi PNS,” ujarnya.

Stigma Negatif

Lebih lanjut, Teguh tidak menampik publik masih menaruh stigma negatif terhadap peretas. Publik belum begitu mengetahui bahwa peretas sebenarnya terdiri dari beberapa jenis. Di luar negeri misalnya, dia menyebut ada kampanye bahwa ‘hacker is not crime’.

Kampanye itu bagian dari upaya merubah stigma peretas dari negatif menjadi positif. Namun, dia menilai hal itu percuma tanpa tindakan yang konkret.

Di Ethical Hacker Indonesia, dia menyampaikan pihaknya membuat sesuatu untuk merubah stigma publik terhadap peretas. Misalnya, organisasi itu membuat situs Kawal Corona, Periksa Data, hingga Laporkan Penipuan.

Dengan hadirnya sejumlah proyek itu, dia berharap publik bisa merubah pandangan negatifnya terhadap hacker menjadi positif.

“Pada dasarnya hacker itu banyak stigma negatifnya selama ini. Tapi cara kita merubah ya dengan ngasih tahu ada lho yang namanya Ethical Hacking, yang isinya orang-orang yang mengarahkan kemampuannya untuk hal positif,” ujar Teguh.